23 Mei 2017 - 17:54
Kembalinya Teroris Eropa dari Suria dan Irak Ancam Keamanan Eropa

Kepala Satuan Tugas Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Menangkal Aksi Terorisme Jean-Paul Laborde dalam pernyataan terbarunya mengatakan kembalinya kelompok teroris kenegara-negara asalnya di Eropa pasca kegagalan misinya di Suriah akan sangat membahayakan keamanan di negara-negara Eropa.

Menurut Kantor Berita ABNA, Kepala Satuan Tugas Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Menangkal Aksi Terorisme Jean-Paul Laborde dalam pernyataan terbarunya mengatakan kembalinya kelompok teroris kenegara-negara asalnya di Eropa pasca kegagalan misinya di Suriah akan sangat membahayakan keamanan di negara-negara Eropa. 

Kekhawatiran tersebut diungkap Laborde dalam wawancaranya dengan Reuters senin (22/5). Ia berkata, "Kembalinya anggota-anggota dari kelompok militan yang melakukan aksi terorisme di Suriah dan Irak pada gelombang sangat membahayakan negara-negara Eropa. Ini tidak bisa dibandingkan dengan kembalinya mereka pada gelombang pertama. Sebab gelombang pertama yang kembali adalah anggota rekrutan yang belum terlalu menguat posisinya pada kelompok-kelompok teroris atau yang bersifat sekedar memata-matai target. Sementara yang gelombang kedua, adalah kelompok yang memang menargetkan kekacauan dan aksi-aksi teror di Eropa."

"Mereka yang kembali pada gelombang kedua ini memang telah memiliki niat baik sebagai bentuk balas dendam dari kegagalan mereka maupun sesuai target mereka dari awal setelah mendapatkan pembinaan dan pelatihan intensif di Suriah maupun di Irak." Tambahnya. 

Pejabat PBB tersebut lebih lanjut menambahkan, "Sesuai laporan terakhir, saat ini kurang lebih tersisa 5000 teroris asal Eropa yang berperang di Suriah dan Irak. Kekalahan demi kekahalan yang mereka dapatkan, khususnya di Mosul dan Aleppo, membuat mereka memilih untuk kembali ke negara asalnya. Hal inilah yang mengancam keamanan Eropa."

"Langkah antisipasi pertama yang harus dilakukan adalah memperketat aturan imigrasi dan menjaga ketat wilayah-wilayah perbatasan." Ungkapnya. 

Disebutkan dalam 2-3 bulan terakhir, di sejumlah negara Eropa terlah terjadi rangkaian aksi terorisme yang telah merenggut banyak nyawa dari warga sipil. Aksi-aksi terorisme tersebut diduga keras pelakunya adalah alumni-alumni dari mereka yang menebar teror di Suriah dan Irak.